Blogger news

Danau Toba

HORAS MEDAN.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 10 November 2013

ALINEA


I. Pengertian Alinea

Paragraf atau alinea adalah suatu bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat. Dalam upaya menghimpun beberapa kalimat menjadi paragraph, yang perlu diperhatikan adalah kesatuan dan kepaduan.
Kesatuan berarti seluruh kalimat dalam paragraf membicarakan satu gagasan(gagasan tunggal). Kepaduan berarti seluruh kalimat dalam paragraf itu kompak, saling berkaitan mendukung gagasan tunggal paragraf.

Berdasarkan fungsinya, kalimat yang membangun alinea pada umumnya dapat diklasifikasikan atas dua macam, yaitu
1. Kalimat Utama : Biasanya diletakkan pada awal paragraf, tetapi bisa juga diletakkan pada bagian tengah maupun akhir paragraf. Kalimat utama adalah kalimat yang inti dari ide atau gagasan dari sebuah paragraf. Biasanya berisi suatu pernyataan yang nantinya akan dijelaskan lebih lanjut oleh kalimat lainnya dalam bentuk kalimat penjelas.
Ciri–ciri kalimat utama
a) Mengandung permasalahan yang potensial untuk diuraikan lebih lanjut.
b) Merupakan kalimat lengkap yang dapat berdiri sendiri.
c) Mempunyai arti yang jelas tanpa dihubungkan dengan kalimat lain.
d) Dapat dibentuk tanpa kata sambung.

2. Kalimat Penjelas : Kalimat penjelas adalah kalimat yang memberi penjelasan tentang gagasan pokok.Kalimat penjelas harus senantiasa menjabarkan gagasan yang dinyatakan dalam kalimat topik.
 Ciri–ciri kalimat penjelas:
a) Merupakan kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri.
b) Arti kalimatnya baru jelas setelah dihubungkan dengan kalimat lain dalam suatu alinea.
c) Pembentukannya menggunkan kata penghubung
d) Isi dari kalimat penjelas ini mendukung kalimat utama

II. Macam–Macam Alinea

a. Menurut fungsinya
1.      paragraf pembuka
2.      paragraf penghubung
3.      paragraf penutup

b. Menurut posisi kalimat topik :
1.      paragraf deduktif
2.      paragraf induktif
3.      paragraf deduktif – induktif
4.      paragraf tersebar

c. Berdasarkan sifat isinya :
1.      paragraf argumentasi
2.      paragraf narasi
3.      paragraf persuasi
4.      paragraf eksposisi
5.      paragraf deskripsi

III. Pola Pengembangan Alinea

Berdasarkan letak kalimat utamanya, alinea terbagi menjadi :
a)      Alinea deduktif : Kalimat utamanya terdapat pada bagian awal kalimat.
b)      Alinea induktif  : Kalimat utamanya terdapat pada bagian akhir kalimat.
c)      Alinea campuran : Kalimat utamanya terletak di awal dan ditegaskan kembali pada bagian akhir.
d)     Alinea diskriptif : Kalimat utama yang tersirat pada seluruh kalimat di paragraph tersebut.

IV. Syarat –Syarat Alinea
1.      Kesatuan : tiap paragraf hanya mengandung satu pikiran / satu tema.
2.      Perincian dan urutan isi paragraf :
a) urutan waktu.
b) urutan logis.
c) urutan ruang.
d) urutan proses.
e) sudut pandangan/ point of view.

Sumber:

Kalimat Efektif (Turunan)


I. Pengertian Kalimat Turunan

Kata turunan adalah kata dasar yang memiliki imbuhan , baik berupa awalan , sisipan/akhiran , maupun gabungan kata . Kata turunan termasuk salah satu unsur pembentuk kalimat , selain kata dasar dalam setiap penulisan artikel .

Berikut adalah beberapa informasi tambahan untuk melengkapi aturan yang terdapat pada Kata Turunan.
a) Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasar.
    Contoh: bergeletar, dikelola.

b) Jika kata dasar berbentuk gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas.
Contoh: bertepuk tangan, garis bawahi

c) Jika kata dasar berbentuk gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan ditulis serangkai. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas.
Contoh: menggarisbawahi, dilipatgandakan.

d) Jika salah satu unsur gabungan hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata ditulis serangkai.
Contoh: adipati, mancanegara.

e)Jika kata dasar huruf awalnya adalah huruf kapital, diselipkan tanda hubung.
Contoh: non-Indonesia.

Secara umum, pembentukan kata turunan dengan imbuhan mengikuti aturan penulisan kata yang ada di bagian sebelumnya. Berikut adalah beberapa informasi tambahan untuk melengkapi aturan tersebut.

a) Jenis imbuhan
Jenis imbuhan dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi:
1.  Imbuhan sederhana; hanya terdiri dari salah satu awalan atau akhiran.
 Awalan: me-, ber-, di-, ter-, ke-, pe-, per-, dan se-
 Akhiran: -kan, -an, -i, -lah, dan -nya

2. Imbuhan gabungan; gabungan dari lebih dari satu awalan atau akhiran.
a) ber-an
b) di-kan dan di-i
c) diper-kan dan diper-i
d) ke-an dan ke-i
e) me-kan dan me-i
f) memper-kan dan memper-i
g) pe-an
h) per-an
 i) se-an
 j) ter-kan dan ter-i

3. Imbuhan spesifik; digunakan untuk kata-kata tertentu (serapan asing).
   Akhiran: -man, -wan, -wati, dan -ita.
   Sisipan: -in-,-em-, -el-, dan -er-.

b) Awalan me-

Pembentukan dengan awalan me- memiliki aturan sebagai berikut:
1. Tetap, jika huruf pertama kata dasar adalah l, m, n, q, r, atau w.
Contoh: me- + luluh → meluluh, me- + makan → memakan.

2.  me- → mem-, jika huruf pertama kata dasar adalah b, f, p*, atau v.
Contoh: me- + baca → membaca, me- + pukul → memukul*, me- + vonis → memvonis, me- + fasilitas + i → memfasilitasi.

3. me- → men-, jika huruf pertama kata dasar adalah c, d, j, atau t*. Contoh: me- + datang → mendatang, me- + tiup → meniup*.

4. me- → meng-, jika huruf pertama kata dasar adalah huruf vokal, k*, g, h.
Contoh: me- + kikis → mengikis*, me- + gotong → menggotong, me- + hias → menghias.

5. me- → menge-, jika kata dasar hanya satu suku kata.
Contoh: me- + bom → mengebom, me- + tik → mengetik, me- + klik → mengeklik.

6.  me- → meny-, jika huruf pertama adalah s*. Contoh: me- + sapu → menyapu*.

Huruf dengan tanda * memiliki sifat-sifat khusus:

a) Dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf vokal.
Contoh: me- + tipu → menipu, me- + sapu → menyapu, me- + kira → mengira.

b) Tidak dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf konsonan.
Contoh: me- + klarifikasi → mengklarifikasi.

c)  Tidak dilebur jika kata dasar merupakan kata asing yang belum diserap secara sempurna.
Contoh: me- + konversi → mengkonversi.

Aturan khusus:

Ada beberapa aturan khusus pembentukan kata turunan, yaitu:
1. ber- + kerja → bekerja (huruf r dihilangkan)
2. ber- + ajar → belajar (huruf r digantikan l)
3. pe + perhati → pemerhati (huruf p luluh menjadi m)


Sumber: