Blogger news

Sabtu, 07 Juni 2014

RESENSI NOVEL


Judul          : “Perfume The Story of a Murderer”
Penulis       : Patrick Süskind
Penerjemah : Bima Sudiarto
Penerbit      : Dastan Books, Jakarta
Tebal          : 428 halaman 

Novel Perfume The Story of a Murderer ditulis oleh seorang penulis yang berasal dari  Jerman, Patrick Suskind dimana ceritanya menawarkan tentang Prancis yang gelap dan suram pada abad 18. Novel Perfume adalah kisah yang memikat tentang pembunuhan dan “kegeniusan yang menyimpang”. Novel bestseller yang sensasional ini membangkitkan rasa penasaran yang menakutkan tentang apa yang terjadi ketika bakat, hasrat, dan kecenderungan akan aroma tubuh mengubahnya menjadi seorang pembunuh genius.

Jean-Baptiste Grenouille terlahir tanpa diinginkan ibunya dan tanpa bau badan. Setelah selamat dari pembunuhan ibunya sendiri yang seorang pelacur, bayi laki-laki ini berpindah dari satu ibu susu ke ibu susu yang lain kemudian dibuang ke rumah penitipan anak yatim piatu. Kedatangan Grenouille menimbulkan perasaan tak nyaman dan terganggu pada anak-anak yatim piatu lainnya. Bukan tersebab kenakalannya, tapi semata-mata karena Grenouille hadir tanpa bau badan.

Hasrat membunuh memang beraneka ragam. Tapi, yang membuat novel ini memikat justru keunikan dari motif membunuh Grenouille, sang tokoh utama demi sebuah aroma. Keunikan itu mengantar Süskind layak diacungi jempol. Süskind mampu merangkai ide tentang aroma cukup detail, hasrat membunuh yang muskil, dan efek parfum yang melahirkan cinta. Novel ini pun, dari segi gagasan, sudah mengundang decak kagum.

Karakter tokoh sejak dini digambarkan sangat tegas (tidak disembunyikan) sebagai manusia abnormal, pun hanya dengan satu kekurangan yang tidak dimilikinya, sebagai manusia ia lahir tanpa bau badan. Tapi dari kelihaian dari tuturan yang disuguhkan justru mengangkat jati diri sang tokoh hadir dan menempati ke titik tertinggi sebagi seniman jenius sebagi ahli pembuat parfum tanpa cela yang punya kelebihan yang tidak dimiliki manusia lainnya.

Kelebihan Grenouille mencium bau, membuatnya belajar tentang parfum dan mewarisi seni meramu minyak. Di usia 18 tahun, dia menempuh perjalanan ke selatan untuk belajar teknik penyulingan. Akhirnya ia terpikat pada aroma perawan seorang gadis berambut merah dan membunuhnya untuk menghirup aroma perawan itu. Dari peristiwa itu, Grenouille berambisi untuk menciptakan parfum beraroma perawan.

Tidak memiliki bau badan namun punya indera penciuman yang sangat tajam, Grenouille menjelma tokoh genius dalam seni meramu aroma. Setelah mencium aroma seorang perawan cantik, ia terobsesi membuat parfum terbaik beraroma perawan. Tanpa emosi Grenouille membunuh 25 gadis perawan untuk diambil aromanya. Tubuh mereka layu seolah terisap tanpa sisa. Pakaian beserta rambut dan kulit kepala hilang. Pembunuhan berantai yang rapi, terencana dan misterius. Dua puluh empat perawan sudah ia bunuh, tinggal perawan berambut pirang Laure yang harus ia tunggu sampai berumur 16 tahun. Tapi gadis itu dijaga ketat oleh sang ayah.

Lebih dari sekadar unik, novel ini juga memiliki beberapa kelebihan. Selain didukung riset memadai soal aroma, novel ini juga menarik dan tak membosankan. Karakter dan perubahan tokoh cerita juga digambarkan dengan kuat. Dari lahir hingga meninggal, ada konsistensi yang cukup kuat dari keteguhan pengarang dalam menceritakan “kebencian hidup” Grenouille. Tak salah, sejak awal kisah ini menegaskan sifat Grenouille yang aneh.



0 komentar:

Posting Komentar